LAUAK PUKEK DI PANTAI PADANG

lauak pukekSejak kecil saya senang sekali melihat kegiatan rutin para nelayan tradisional di Pantai Padang, salah satu Pantai di Samudera Hindia, yaitu “maelo pukek” atau menarik pukat (semacam jaring untuk menangkap ikan) sangat menarik hati saya. Para Nelayan, biasanya melakukan kegiatan ini pada pagi hari antara pukul 07.00 sampai dengan 09.00 WIB.

*Pukat yang digunakan adalah pukat tradisional, bukan pukat harimau (trawl) yang dapat merusak ekosistem dan biota laut kita dalam waktu singkat….!!!*

***

Pada malam hari, Para Nelayan membawa pukat ini ke laut dengan mengendarai perahu-perahu kecil bercadik. Tujuannya mencari posisi dimana ikan banyak bergerombol (yang sudah diperhitungkan berdasarkan ilmu dan pengalaman dari nenek moyang). Mereka baru kembali ke bibir pantai di pagi hari ketika matahari sudah terbit.

Disamping memperhitungkan posisi ikan, mereka juga bisa memperkirakan cuaca dengan cara tradisional (tanpa menggunakan teknologi), karena hanya pada saat cuaca baiklah mereka bisa melaut, sementara ketika cuaca tidak bersahabat mereka juga tidak berani menerjang badai.

Ketika kapal pukat sudah kembali ke pantai, para nelayan bergotong royong (bersama-sama) atau berkelompok untuk menarik pukat. Hasil tangkapannya, adalah ikan-ikan kecil yang berada di pesisir pantai antara lain ikan baledang (layur), maco (selar), karang, kembung, layang, tongkol, udang, kepiting dll.

***

Nah, minggu lalu saya dapat ide untuk memesan ikan hasil tangkapan nelayan tersebut, untuk dibawa ke Jakarta, apalagi secara kebetulan kakak sepupu yang tinggal di tepi pantai Padang berniat mau ke Jakarta.

Saya hubungi beliau, agar membantu memesankan ikan-ikan kecil tersebut.

Katanya satu box (ukuran sekitar  panjang, lebar dan tinggi 30x20x30 cm) yang telah di packing harganya Rp 150.000,- ……

***

Beliau berangkat dengan pesawat pukul 12.00 WIB dari Padang, sehingga pada pagi harinya beliau sudah datang ke penjual ikan untuk mengambil ikan yang sudah di packing dengan rapi oleh penjualnya menggunakan kotak dari bahan styrofoam dengan balutan lakban yang cukup kuat, karena sudah dipesan sehari sebelumnya.

Waktu tempuh dari Padang ke Jakarta menggunakan pesawat terbang kurang lebih hanya 1 jam 40 menit, sampai dan landing di Bandara Halim sekitar pukul 14, ikan di antar ke rumah.

Sampai di rumah, ikan-ikan  kecil tersebut langsung dibersihin, dimasukin ke dalam kantong-kantong plastik ukuran setengah kilo dan disimpan di Freezer agar tahan untuk beberapa lama, karena tidak mungkin menghabiskannya sekaligus.

Hari itu juga kami masak Pangek Masin (Gulai Kunng) memanfaatkan ikan-ikan tersebut.

Hmmm…. rasanya gurih dan “manis”, sungguh beda rasanya karena terjamin kesegaranya….

***

Sebagai catatan buat teman-teman yang akan jalan-jalan ke Padang, jika mau mencari ikan-ikan kecil yang terjamin kesegarannya, dari Pantai yang relatif masih bersih dari polusi, datang dan pesanlah ikan yang di Pantai Padang, penjulanya akan mem-packing ikan-ikan ini dengan rapi dilengkapi dengan batu es (sebagai pengawet alami) untuk dapat dibawa ke seluruh Indonesia.

 

Advertisements

PELANGGAN PESAWAT SELALU KALAH

WhatsApp Image 2017-04-19 at 15.53.27Sebagai seorang anak laki-laki yang paling besar, saya merasa bertanggung jawab untuk menghadiri pernikahan keponakan di Padang.

Karena itu, beberapa waktu yang lalu, saya memesan tiket Citilink dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang yang jatuh pada hari Jumat dengan jam keberangkatan pukul 11.30 WIB.

Continue reading “PELANGGAN PESAWAT SELALU KALAH”

INDAHNYA DISIPLIN

Arus mudik sudah usai meskipun sampai saat ini (Senin, 11 Juli 2016) arus balik di Jawa Tengah masih dipadati kendaraan, bahkan masih terjebak kemacetan di sejumlah titik.

Jalan lingkar Bumiayu padat merayap imbas dari buka tutup palang pintu rel dan contraflow yang diberlakukan sebelum rel sehingga terjadi penumpukan kendaraan. Demikian juga dengan jalur Selatan Jawa Barat, dari arah Tasikmalaya melalui Kota Garut, termonitor masih padat.

***

Kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman kemacetan parah di Tol Brexit (Brebes Exit) mulai dari terjebak macet berpuluh-puluh jam, sampai ada yang meninggal karena telat mendapatkan pertolongan di tengah macet.

Marilah kita renungan kembali, bagaimanakah budi pekerti kita, yaitu etika, disiplin dan empati kita selama ini ?

Marilah kita ingatkan anak-anak (sebagai generasi berikutnya) agar mereka lebih tertib dan menghargai kepentingan orang lain, mendahului kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan seperti dulu kita pelajari di sekolah.

Supaya mereka tidak mengikuti generasi kita (suka tidak suka harus diakui) sebagian besar masih main serobot, enngan antri, contraflow, (angkot) berhenti seenaknya, ugal-ugalan di jalan, senang memakai klakson, tidak mau memberi kesempatan kepada kendaraan lain yang minta jalan atau  pejalan kaki yang mau menyeberang, buang sampah dari kendaraan, menggunakan alat komunikasi ketika berkendaraan dan yang terakhir adalah suka menyalahkan Pemerintah, maupun infrastruktur.

Jika selama kita belum bisa menghargai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, kita juga belum bisa berharap keruwetan lalu lintas dan keruwetan lain di negara ini akan segera berakhir.

Untuk itu sudah saatnya kita kembali meningkatkan budi pekerti yaitu etika, disiplin, dan empati. Jadikanlah diri kita masing-masing sebagai panutan anak-anak kita.

Seperti jargon “3M” AA Gym : Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai dari sekarang …!!!”

Mulailah dari Saya, Anda, dan Kita….!!! Kita mampu asal kita mau…….!!!

BREXIT ALA INDONESIA

Brexit ala Indonesia alias Brebes Exit telah memakan korban, setidaknya belasan nyawa melayang sia-sia, ribuan bahkan ratusan ribu kendaraan serta pemudik terjebak di jalur  “neraka” ini.

#He3… hiperbola, katanya jalur neraka padahal jalur ke Brebes.

Ada yang mengatakan bahwa kemacetan mudik tahun 2016 ini adalah kemacetan TERPARAH sepanjang sejarah mudik bangsa ini menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dari berbagai sumber, dapat dihimpun beberapa penyebab kemcetan terjadi, al. :

Volume kendaraan tak sebanding dengan kapasitas jalan, tingginya volume kendaraan, mengakibatkan kapasitas jalan tidak mampu menampungnya dalam satu waktu tertentu.

Pasar tumpah, Pemerintah Daerah (Pemda) yang kurang sigap dalam mengatasi pasar tumpah, kurangnya antisipasi, penegakan hukum dan ketegasan untuk melarangnya.

Antrean SPBU,  banyaknya pengemudi antre masuk SPBU usai keluar gerbang tol.

Pengemis jalanan, adanya warga yang meminta-minta di Jembatan Sukra, Indramayu  dan di sepanjang jalan tol.

Pedagang Asongan, dimana ada kemacetan di situ ada pedagang asongan, baik di jalan tol maupun non-tol dan anehnya aparat berwenang tidak punya “nyali” untuk melarangnya.

Kurangnya disiplin pengguna jalan, saling serobot, mengambil jaur yang berlawanan (contra flow), berhenti di bahu jalan, angkutan umum berhenti sembarangan, supir ugal-ugalan dll.

Dan yang paling utama adalah :

Infrastruktrur belum siap, infrastrukut jalan tol Pejagan-Brebes belum memenuhi semua unsur operasional untuk melayani arus mudik 2016, al. jumlah gardu di Brexit tidak sebanding dengan pintu tol Cikarang Utama, tidak mempunyai jalur alternatif, sehingga pemudik terpaksa keluar di Brexit, pertemuan jalur pantura, serta kapasitas jalan kecil.

Dari uraian di atas, maka lengkaplah sudah unsur-unsur yang menyebabkan “neraka” itu terjadi, infrastruktur, pengguna jalan, maupun regulatornya sendiri.

Kita tidak tahu dimana benang kusutnya, apa di Kementerian Perhubungan melalui Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) atau Dirjen Perhubungan Darat atau Jasa Marga,  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  atau Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kepolisian, Pemerintah Daerah, Kementerian Sosial (untuk penertiban Pengemis) ?

Di media kita sudah mengikuti, bagaimana para pejabat tersebut saling lempar tanggung jawab dan saling tuding.

Padahal jika para pengambil keputusan cepat mengambil tindakan pasti kemacetan tidak akan berlarut-larut seperti itu, GRATISKAN saja semua kendaraan yang lewat sampai kemacetan terurai, pasti akan sangat membantu…!!!

(Dihimpun dari berbagai sumber)

 

9 JAM JAKARTA – CIPANAS

Pukul 6.05 perjalanan panjang itu di mulai. Karena tidak mau lewat Tol Simatupang (takut antri di Pintu Tol Cibubur) kami melaju ke arah Depok, dari Jalan Juanda masuk Tol Cijago (Cinere – Jagorawi).

Perjalanan lancar tanpa halangan.

Kami mampir mengisi bahan bakar di pompa bensin Sentul, kemudian melanjutkan perjalanan. Sekitar 2 km menuju Pintu Tol Ciawi kendaraan sudah mulai padat, meskipun bisa jalan namun sangat pelan.

Kami mampir lagi di toilet pompa bensin (setelah tol keluar Ciawi). Keluar dari pompa bensin sudah terlihat orang-orang yang menawarkan agar “lewat jalur alternatif” dan pedagang asongan. Salah satu tanda bahwa jalanan sedang macet bahkan ternyata di tutup sejak lampu merah Ciawi – Gadog ke arah Puncak.

Padahal baru pukul 7.30

Kami memilih lewat jalur lurus ke arah Sukabumi, terus belok ke kiri ke arah lampu merah Ciawi – Gadog (yang tadi ditutup), lancar….!!!

Sekonyong-konyong, tanpa ada tanda-tanda macet, tiba-tiba semua kendaraan berhenti total….!!!

Karena sama sekali tak bergerak, kami balik arah ke Tajur untuk cari sarapan di sekitar Toko Venus “Roti Unyil”. Banyak yang jual makanan di sana, rupanya ada lontong pecel enak juga, sampai antri 20 menit untuk mencicipinya.

Kemudian beli minuman, satu boks roti unyil dan kue-kue kecil lainnya untuk persiapan mengharungi lautan kendaraan.

Setelah sarapan, kami kembali jalan ke arah Ciawi – Gadog,  sementara waktu sudah pukul 10.30. Kepalang basah, dari pada balik lagi ke Jakarta, kami nekad menuju Cipanas.

Ternyata sedang berlaku yang dikatakan dengan “rekayasa lau-lintas dengan sistem buka – tutup”. Kadang jalan, kadang berhenti…

Jalan sedikit, berhenti….jalan sedikit berhenti. Yang parahnya lagi setelah Taman Safari Cisarua, ada kendaraan yang ambil jalur kanan sehingga kendaraan dari arah berlawanan tidak bisa lewat.

Begitu seterusnya sampai ke Puncak dan sebaliknya arah Jakarta, di tambah lagi dengan bus-bus yang mogok membuat jalan arah Puncak bagai jalur “neraka”.

***

Pukul 3. sore, akhirnya kami sampai juga di Cipanas, kami berhenti makan siang di Warung Nasi Alam Sunda Khas Cianjur.  Sampai di tujuan pukul 3.30 sore.

Demikianlah perjuangan kami dari Jakarta ke Cipanas dalam waktu lebih dari 9 jam.

Padahal untuk kembali ke Jakarta tidak lama, dari jam 10 malam sampai di rumah 12.30 pagi (hanya 2,5 jam). Itupun masih kena sistem buka tutup di lampu merah Ciawi – Gadog

11 JAM DI JALAN

Libur panjang memang suatu fenomena yang tidak ada habisnya bila dibahas.

Kemaren Rabu (4/5), kakak sepupu saya menjemput saudaranya ke Bandara Soeta. Berangkat dari rumahnya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan pukul 14.20, lewat Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta – JORR (Jakarta Outer Ringroad).

(Sementara berita pukul 14 hari itu, menyatakan bahwa kemacetan kendaraan arah Tol Cikampek telah mencapai Taman Anggrek…!!!)

Sampai di Bandara Soeta setelah pukul 16.30, kemudian ngantar ke Serpong dan kembali lagi ke rumahnya di Lenteng Agung pukul 1.20 dini hari…!!!

Bayangkan berangkat Rabu pukul 14.20, sampai di rumah kembali Kamis pukul 1.20 dini hari…!!! hanya ke dan dari Bandara Soeta.

11 Jam….!!! di perjalanan 😦

***

O ya, sahabat saya yang berangkat dari Pancoran hari ini Kamis (5/5) pukul 6 pagi, baru sampai di Karawang pukul 12.00 (6 jam).

(Berita terakhir pukul 13.55 menyatakan bahwa kemacetan di Gerbang Tol Pasteur telah mencapai 3 km)

Bayangkan jam berapa mereka sampai di Bandung?

 

TAKSI BANDARA VS TAKSI ONLINE

Karena besok libur panjang (5 s/d 8 Mei 2016), saya ingin cerita tentang pelayanan taksi di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, sebagai salah satu daerah tujuan wisata populer di Indonesia dan mancanegara.

Meskipun berkali-kali ke Bali, biasanya selalu dijemput, jadi tidak tahu kondisi transportasi di Bandara ini. Sementara kali ini saya ingin menggunakan kendaraan umum, yaitu taksi.

Keluar dari terminal kedatangan kita langsung ketemu dengan orang-orang yang menawarkan taksi.

Pak, mau kemana ?, ” tanyanya,

Saya menjawab “Ke Kuta

Boleh Pak, tapi borongan (tidak pakai argo)Rp 150.000 Pak

***

Bayangkan…!!! sebuah daerah wisata tapi kondisinya masih seperti itu, padahal apa salahnya menggunakan standar yang sudah ditentukan (dengan argometer).

Pilihan yang lain adalah mobil-mobil sewaan seperti Innova yang ada di depan bandara, itupun dengan harga yang sama, namun masih bisa nego.

Sementara taksi online seperti Grab (sekarang bisa mengambil penumpang di depan bandara) hanya Rp 42.000 (Empat puluh dua ribu rupiah).

Kalau saya lebih memilih menggunakan taksi online, dibandingkan dengan taksi resmi di Bandara, karena harganya murah dengan pelayanan yang baik dan sopan.

Anda pilih yang mana …?

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑