BREXIT ALA INDONESIA

Brexit ala Indonesia alias Brebes Exit telah memakan korban, setidaknya belasan nyawa melayang sia-sia, ribuan bahkan ratusan ribu kendaraan serta pemudik terjebak di jalur  “neraka” ini.

#He3… hiperbola, katanya jalur neraka padahal jalur ke Brebes.

Ada yang mengatakan bahwa kemacetan mudik tahun 2016 ini adalah kemacetan TERPARAH sepanjang sejarah mudik bangsa ini menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dari berbagai sumber, dapat dihimpun beberapa penyebab kemcetan terjadi, al. :

Volume kendaraan tak sebanding dengan kapasitas jalan, tingginya volume kendaraan, mengakibatkan kapasitas jalan tidak mampu menampungnya dalam satu waktu tertentu.

Pasar tumpah, Pemerintah Daerah (Pemda) yang kurang sigap dalam mengatasi pasar tumpah, kurangnya antisipasi, penegakan hukum dan ketegasan untuk melarangnya.

Antrean SPBU,  banyaknya pengemudi antre masuk SPBU usai keluar gerbang tol.

Pengemis jalanan, adanya warga yang meminta-minta di Jembatan Sukra, Indramayu  dan di sepanjang jalan tol.

Pedagang Asongan, dimana ada kemacetan di situ ada pedagang asongan, baik di jalan tol maupun non-tol dan anehnya aparat berwenang tidak punya “nyali” untuk melarangnya.

Kurangnya disiplin pengguna jalan, saling serobot, mengambil jaur yang berlawanan (contra flow), berhenti di bahu jalan, angkutan umum berhenti sembarangan, supir ugal-ugalan dll.

Dan yang paling utama adalah :

Infrastruktrur belum siap, infrastrukut jalan tol Pejagan-Brebes belum memenuhi semua unsur operasional untuk melayani arus mudik 2016, al. jumlah gardu di Brexit tidak sebanding dengan pintu tol Cikarang Utama, tidak mempunyai jalur alternatif, sehingga pemudik terpaksa keluar di Brexit, pertemuan jalur pantura, serta kapasitas jalan kecil.

Dari uraian di atas, maka lengkaplah sudah unsur-unsur yang menyebabkan “neraka” itu terjadi, infrastruktur, pengguna jalan, maupun regulatornya sendiri.

Kita tidak tahu dimana benang kusutnya, apa di Kementerian Perhubungan melalui Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) atau Dirjen Perhubungan Darat atau Jasa Marga,  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  atau Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kepolisian, Pemerintah Daerah, Kementerian Sosial (untuk penertiban Pengemis) ?

Di media kita sudah mengikuti, bagaimana para pejabat tersebut saling lempar tanggung jawab dan saling tuding.

Padahal jika para pengambil keputusan cepat mengambil tindakan pasti kemacetan tidak akan berlarut-larut seperti itu, GRATISKAN saja semua kendaraan yang lewat sampai kemacetan terurai, pasti akan sangat membantu…!!!

(Dihimpun dari berbagai sumber)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: