MENYEBERANG KE NEGARA PULAU

20151226001558

Karena belum punya pengalaman bagaimana rasanya dari Batam ke Singapur naik ferry, maka ketika mengunjungi keluarga di Batam, saya sekalian memanfaatkannya untuk menyeberang ke Negara pulau tsb.

Kami berangkat pada pukul 13 dari Pelabuhan Batam Centre menuju Harbour Front Singapur menggunakan “Sindoferry” dalam waktu sekitar 45 menit (34 SGD dewasa dan 23 SGD anak-anak).

O ya Ferry ini juga melayani penumpang ke/dari pelabuhan lain seperti Sekupang, Tanjung Balai, Karimun, Tanjung Pinang dll.

Kami menggunakan mobil rental (Van) untuk mengunjungi beberapa tempat, karena waktu kami yang terbatas.

Dalam suasana gerimis, dari Harbour Front kami langsung ke Hotel 81 Bugis yang sudah kami booking sebelumnya, karena tarifnya ekonomis (220 SGD), lokasinya di pusat kota, mudah terjangkau, dekat dari National Library Board, National Museum, dan dekat dengan Bras Basah Complex (BBC) yang terletak di Bain Street yaitu sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi surga bagi pencinta buku, barang antik, karya seni, dan alat musik.

Konsep seperti di BBC ini juga ada di Indonesia, yaitu di Palasari, Bandung, sebagai kompleks bursa buku terbesar dan termurah di Indonesia.

***

Karena perut sudah terasa lapar, kami segera ke salah satu pusat jajan yang relatif murah, rasanya enak dan cukup popular yaitu Newton Food Centre bertempat di Orchard Road dengan berbagai macam pilihan menu terutama seafood. Hal ini mengingatkan saya, pertama kali makan malam di sini lebih dari 13 tahun yang lalu, ketika itu saya belum tahu nama tempat ini.

Setelah makan malam, kami mampir ke Takashimaya di Orchard Road, Pusat Perbelanjaan yang memiliki koleksi barang-barang yang cukup lengkap. Ketika mencari-cari barang di Harrods, salah seorang Pramuniaga bertanya:

Pramuniaga : Apa dari Indonesia ?

Saya : Iya

Pramuniaga : Dari Jakarta ?

Saya : Iya

Pramuniaga : Orang Jakarta kaya-kaya…!!!

Mendengar pernyataan tsb saya tersenyum, ternyata orang Jakarta itu terkenal kaya, mungkin karena suka memborong barang-barang mahal dan branded ya….. he3, padahal saya hanya window shopping.

***

Di sela-sela gerimis malam itu, sekitar pukul 11 malam kami meluncur menuju ke sebuah kawasan, saya napak tilas (kenangan 5 tahun lalu), saya pernah nginap di Hotel 88 International di Lorong 10, Geylang.

Saat itu saya sama sekali tidak tahu bahwa distrik ini adalah daerah lokalisasi baik legal maupun illegal. Penyedia jasanya datang dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, India, Vietnam, Filipina, China, Indonesia, bahkan Usbekistan, mulai dari yang kulitnya berwarna kuning, putih (bule) bahkan gelap, dari melayu, mata sipit atau mata biru/ coklat, berambut hitam, pirang sampai keriting.

Mereka umumya berpakaian minim dan ketat dengan warna-warni mencolok, padanan tanktop polos dan rok mini, bisa kita jumpai sejak pagi, semakin banyak pada siang, sore, apalagi malam hari. Umumnya mereka terlihat di sekitar Lorong 10 dan 12 Geylang.

Amad sang driver menunjukkan cara membedakan PSK illegal dan legal, yang berdiri dipinggir jalan illegal dan tidak ada lisensi, sedangkan yang ada di rumah-rumah bordil legal serta memiliki lisensi, mereka diperiksa kesehatannya secara berkala.

Amad yang mengaku orang Melayu ini wanti-wanti agar tidak memotret, atau kalau terpaksa jangan pakai blitz agar tidak terlihat, takut mobilnya diserang oleh para PSK tsb.

Oya, tidak semua lorong di Geylang digunakan untuk prostitusi, ada juga tempat-tempat yang masih “bersih”, sementara di  lorong-lorong lain juga ada kedai Cina dan India, bahkan restoran Padang.

Salah seorang teman di Jakarta, mengatakan : “Nginap di Geylang..? jangan deh apalagi membawa keluarga dan anak-anak”.

Pada kedatangan (iseng) saya kemarin, membuktikan bahwa lokalisasi ini jauh lebih rapi dari sebelumnya, misalnya sudah tidak banyak PSK yang berdiri di pinggir jalan lagi, rumah-rumah bordil, kasino, karaoke, striptis, penjual obat kuat, toko sex toys juga terlihat tidak begitu mencolok. Sedangkan di depan rumah-rumah bordil ditunggui oleh beberapa pria yang duduk-duduk santai sambil ngobrol, sepertinya di dalam tidak terjadi apa-apa.

***

Pukul 10 pagi hari berikutnya, kami beli tiket The Singapore Cable Car di agen penjualan tiket, karena harganya lebih murah dibandingkan dengan di loket (stasiun) nya sendiri (PP : dewasa 26 SGD dan anak-anak 15 SGD).

The Singapore Cable Car menghubungkan Pulau Singapur dengan Pulau Sentosa, melewati Pelabuhan Singapur, bisa lihat Harbour Front dan kebetulan juga bisa lihat kapal pesiar Star Cruises milik operator dan perusahan kapal ketiga terbesar di dunia sendang nangkring di pelabuhan (13 tahun yang lalu saya tidak lihat kapal pesiar ini, apa waktu itu belum ada trayek ke Singapur?).

O ya, dengan satu tiket PP kita bisa naik turun dan ganti Cable Car di dua jalur yang berbeda, kemudian kembali lagi ketempat semula.

20151226001836

Start Cruises

***

Karena “Sindoferry” yang kami tumpangi akan berangkat menuju Batam sekitar pukul 13.30, maka setelah selesai dari Cable Car, kami bergegas ke Harbour Front, daripada buru-buru dan ketinggalan ferry lebih baik nunggu di pelabuhan sambil cari makan siang di sana.

 

Advertisements

15 thoughts on “MENYEBERANG KE NEGARA PULAU

Add yours

  1. Cerita uda Ded jadi referensi kalo saya ke Singapura dari Batam.
    Negara kecil tapi banyak mencaplok asset negara besar, contoh telkomsel dicaplok singtel. Pemimpinnya mengurus negara dengan tujuan memakmurkan rakyat.

    Like

    1. Demikian juga reklamasi pantai yang cukup luas menambah daratan negara kecil tsb, yang tadinya seiprit sekarang jadi dua iprit 😀
      Yang jelas semua daratan baru itu berasal dari pasir Indonesia. 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: