PERJALANAN KE PERBATASAN TIMOR LESTE (2)

20151126_114629.jpg
Pohon Kayu Putih

Tepat pukul 04.30 Wita kami berangkat menuju Kec. Kapan, ini artinya perjalanan panjang dan penuh rintangan dimulai.

Di awal perjalanan pagi itu kami menemukan beberapa danau kering diantaranya di daerah Welgubuk, kemudian tanaman Jeruk Soe yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT dan apel yang dahulu sempat menjadi primadona di daerah ini, serta pohon jambu yang dijual dipinggiran jalan.

Jeruk yang berkembang di Kota Soe khususnya di kawasan Gunung Mutis dikenal dengan Jeruk Keprok Soe, kata Dado (teman kami) : Rasanya manis keasaman, tapi semakin sulit menemukanny sejak beberapa tahun terakhir, akibat perubahan iklim terutama hama penyakit”.

Memasuki daerah Kapan terlihat banyak Ibu-ibu membawa hasil kebun, dipanggul ataupun di taruh di atas kepala. Sementara Matahari yang berwaran merah seperti kemarin sore, kami temui lagi pagi itu di daerah tsb.

Ada beberapa Gereja bagus yang kontras dengan lingkungan sekitarnya, seperti rumah-rumah penduduk (rumah adat) yang sangat sederhana, diantaranya Gereja Ebenhaezer.

Rupanya ada juga jalur jalan yang bagus dan mulus dengan hotmix kurang lebih sepanjang 5 km (baru selesai dikerjakan), setelah itu jalan biasa lagi sampai ke Desa Tobu, Desa Demit Sebau, sampai ke Desa Bijeli.

Kelihatannya, setiap desa memiliki tangki tempat penampungan air masing-massing yang berwarna biru, terlihat Ibu-ibu jalan bersama-sama membawa dirigen penampung air untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sendiri.

Ada sesuatu hal yang sangat mengharukan, kami temui disepanjang perjalanan, yaitu KERAMAHAN yang jarang atau bahkan tidak kita temui di kota besar, seperti Jakarta.

Di saat kendaraan kami (yang tidak bisa berlari kencang karena jalan rusak dan berbatu) berpapasan dengan kelompok anak-anak yang berangkat/ pulang sekolah (umumnya berpakaian merah putih). Mereka hampir selalu mengucapkan “Selamat Pagiiiii….” bersama-sama dengan ceria dan semangat, terlihat ketulusan hati mereka dari pancaran sinar matanya yang berbinar-binar ketika melambaikan tangan kepada kami.

Keramahan tersebut  kami balas dengan melakukan hal yang sama, kecuali ketika sore di saat kami mulai kelelahan setelah melewati medan yang berat, kami hanya bisa membalas dengan senyum, hanya sesekali melambai dan menjawab “Selamat Soreee….”.

Masing-masing anak membawa air dalam dirigen kecil dan kalau mereka berdua adik/ kakak, mereka menggunakan dirigen yang lebih besar. Sementara ketika sore tiba, mereka bersama-sama datang ke sungai di sekitar tempat tinggal mereka untuk mengisi dirigen masing-masing, persiapan besok pagi berangkat ke sekolah.

Kata Dado : “Air itu untuk memenuhi kebutuhan mereka bersama selama di sekolah, seperti cuci kaki/ tangan, buang air dll, karena semua anak akan menuangkan air yang mereka bawa ke dalam bak-bak penampungan”.
Pukul 07.30, kami berhenti sarapan di daerah Eban di sebuah warung makan Wonogiri, sebagai sarapan sekaligus makan siang kami, karena setelah itu tidak menemukan lagi warung makan yang lain.

Kami hanya mempersiapkan biskuit seadanya untuk persediaan makanan dan minuman, dan sesisir pisang susu yang kami beli dari masyarakat di perjalanan.

Kurang lebih satu jam kemudian kami sampai di Pos Perbatasan RI – RDTL di Oelbinose, Kecamatan Mutis, Kabuaten Timor Tengah Utara yang dikawal oleh Pasukan Armed 11 Kostrad. Saya sempat bicara dengan beberapa orang petugas yang masih muda-muda, salah seorangnya mengaku asli Aceh, dan baru 3 bulan ditempatkan di pos tsb.

Selanjutnya kami melalui Desa Saenam dan Desa Tasinifu, dan sekitar pukul 09.13 kami mulai masuk dan menyeberang Sungai Tasinifu, karena tidak ada jembatan penyebarangan. Kebayang seadainya musim hujan pasti airnya banyak, dan kami tidak mungkin bisa menyeberang sebelum airnya surut.

Pohon kapuk yang juga banyak tumbuh di pinggir jalan mewarnai perjalanan kami, karena itu pukul 09.33 kami sudah melewati Kantor Camat Mutis, Desa Naekake dan Desa Noelelo, berikutnya pukul 10.08 kami siap menyeberangi sungai kedua yatu Sungai Noelelo, terus memasuki ke Kec. Amfoang Utara.

Pukul 10.40 ketika sampai di sebuah tanjakan kering di kelililngi hutan Pohon Kayu Putih (bukan Pohon Minyak Kayu Putih), mobil kami slip dan tidak sanggup menanjak ke atas, meskipun dengan susah payah berkat bantuan Dado dan teman-temannya, akhirnya berhasil juga.

Pukul 11.19 kami melewati Pos Perbatasan yang dijaga Batalyon Armed, dan pukul 11.26 sampai di Oepoli Tengah dan kami menyeberangi sungai yang ke-3 yang tidak begitu luas (hanya sekitar 10m).

Kemudian Pukul 11.30 kami sudah memasuki Pos pemeriksaaan di Polsekta dan Pos Kostrad, meskipun tidak harus turun dari mobil, tapi kami wajib memutar di depan kedua pos tsb (saling berhadapan), jika melakukan kegiatan di daerah itu.

Demikianlah, akhirnya pada pukul 11.40 kami sampai di atas bukit di Desa Netemnanu Utara, dan dari atas bukit terlihat pulau terluar yang dijaga ketat oleh Pasukan TNI, yakni Pulau Batek (Fatu Sinai), kata Dado “Banyak penyu di sana”, terletak di Laut Sawu berbatasan langsung dengan RDTL

Pada pukul 12.36 kami sudah “otw” ke arah Kupang , dengan keinginan agar secepat-cepatnya menyelesaikan perjalan yang menghabiskan waktu dan menguras tenaga ini.

Akhirnya sampai juga di Kupang pukul 10.30 malam, sambil berjuang mendapatkan hotel yang malam itu sebagian besar penuh seperti Aston Kupang Hotel, Hotel Neo Altari (Grup Aston),  On the Rock Hotel Kupang, Swiss-Bellin Kristal Kupang dll.

Advertisements

5 thoughts on “PERJALANAN KE PERBATASAN TIMOR LESTE (2)

Add yours

    1. Membawa dirijen air wujud dari kerjasama dan gotong royong dalam masyarakat.
      Iya al, sangat gersang….tapi msh bisa utk nanam jeruk, apple, jambu terutama kopi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: