PERJALANAN KE PERBATASAN TIMOR LESTE (1)

20151127_115732_resized
Pohon Desember

Tujuan kami adalah Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan langsung dengan District of Oecusse, Republic Demokratic Timor Leste (RDTL).

Dari informasi yang dapat kami kumpulkan Amfoang terdiri dari 6 Kecamatan, yakni Kecamatan Amfoang Timur, Amfoang Tengah, Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara , Amfoang Selatan dan Amfoang Barat Daya dengan 32 desa dan 2 kelurahan, sedangkan jumlah penduduknya lebih dari 52 ribu jiwa.

Wilayahnya sangat luas (lebih dari 1.600 km2) sehingga sulit di jangkau, sangat jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kupang (150 km), akses jalan sangat sulit, jembatan-jembatan umumnya rusak berat. Akibatnya perjalanan darat harus mengharungi jalanan berbatu, terjal dan berliku menaiki bukit dan menyeberangi sungai, berdebu di musim kemarau, namun licin rawan slip di kala musim hujan. Kalaupun ada transportasi laut (perahu) jadwalnyapun tidak jelas.

Kata Dado (teman yang mendampingi kami di NTT), perahu tidak bisa merapat ke pinggir Amfoang, harus disambung dengan kapal kecil.

Secara nyata mereka memang sangat terisolir…!!! Amfoang juga mempunyai pulau terluar yang dikawal Pasukan TNI, yakni Pulau Batek (Fatu Sinai) terletak di Laut Sawu berbatasan langsung dengan RDTL.

***

Kami berangkat dari Cengkareng pukul 08.40 Wib dengan Batik Air ke Bandara El Tari Kupang, karena penerbangannya langsung (2 jam dan 40 menit). Sementara Garuda harus transit di Bandara Juanda Surabaya hampir 4 jam sehingga total perjalanan mencapai hampir 8 jam untuk sampai ke Kupang.

Pukul 13.30 Wita kami mendarat di  Bandara El Tari Kupang, dilanjutkan dengan makan siang di restoran Padang RM. Bagonjong, karena menurut Dado untuk makan siang yang enak hanya restoran Padang, kecuali pada malam hari banyak pilihan restoran ikan bakar yang buka di sekitar pantai Kupang.

Selesai makan kami mampir ke Mesjid Nurul Hifayah tidak jauh dari restoran tempat kami makan, di dalam mesjid saya membaca sebuah singkatan unik yang terpampang di papan pengumuman yaitu “sadar penuh” singkatan dari sarana dakwah anak-anak remaja dan pemuda Nurul Hidayah.

He3… ada-ada saja.

Hari itu kami akan ke Kota Soe yang berhawa lebih sejuk dibandingkan dengan daerah lainnya di NTT, dilanjutkan besok paginya sampai ke Desa Oelbanu di Amfoang Selatan, karena itu Dado harus mengganti mobil dengan kekuatan ganda. Dado menyediakan mobil Nissan Terrano yang bisa berkompromi menghadapi medan berat (off road).

Setelah menjemput teman-teman yang lain, kami berenam berangkat dari Kupang pukul 15.00.

O ya, jalan dari Kupang menuju Kota Soe hampir semuanya mulus, kami melewati Desa Oebello, Kupang Tengah yang ditandai dengan banyaknya penjual garam di warung pinggir jalan, terlihat juga banyak “Pohon Desember” yang memunculkan bunga berwarna orange kemerahan medekati  bulan desember sampai bulan desember, dan Bougenville berwarna cerah menghiasi hampir setiap rumah penduduk, di sepanjang jalan.

Di tengah perjalanan Dado mengatakan : “Bapaaa… kalau mobilnya pakai AC saya sakit kepala Bapaaa…“. “Ya sudah, matikan saja AC nya buka kaca,” jawab saya.

Tidak lama kemudian Dado ngomong lagi, “Bapa maaf Bapaaa, kami orang Kupang kalau tidak merokok pusing Bapaa…”. “Ya sudah silahkan merokok,”saya berusaha untuk memahami mereka, sudahlah mobil tidak pakai AC di udara Kupang yang panas terik, mereka merokok lagi.

Terima kasih Bapaa…”  balas Dado.

***

Demikianlah perjalanan dari Kupang sampai besoknya kembali lagi ke Kupang mobil kami tidak menggunakan AC, padahal suhu di NTT sangat panas.

Di perjalan tsb kami menyaksikan banyak pohon Jagung ditanam oleh masyarakat, sementara Dado juga mengakui kalau tidak makan jagung tidak kenyang. Menurut Dado, Di Desa Naebonet, Kawasan Kupang Timur ini banyak dihuni oleh para  pengungsi Timor Leste yang pro Indonesia.

Selanjutnya kami melewati sungai-sungai yang kering dan tandus, banyak pohon jati yang menggugurkan daunnya sebagai usaha untuk mempertahankan diri dari kekeringan,  ada pohon pinang, kapuk dll.

Matahari yang berwarna merah sore itu berada di belakang kendaraan kami yang meluncur arah ke Timur. Banyak penjual pinang di pinggir jalan, karena makan pinang masih merupakan kesukaan masyarakat NTT.

Umumnya rumah-rumah penduduk menggunakan panel surya (yang dapat merubah cahaya menjadi listrik) ukuran kecil untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Kata Dado : “Sama saja dengan PLN Bapaaa…, mereka juga harus bayar tiap bulan, padahal untuk pemasangan pertama biayanya sekitar 3 juta rupiah”.

Menurut saya, mungkin panel surya dan segala perlengkapannya milik suatu perusahaan swasta, berikut pemasangan jaringan kabelnya semua. Kemudian masyarakat disuruh memakainya tapi operasional perusahaan ditanggung oleh masyarakat secara bersama yang ditandai dengan pembayaran biaya bulanan.

***

Perjalan ke Kota Soe memakan waktu 3 jam dan 15 menit, kami sampai di sana pukul 18.15 Wita. Berkeliling mencari makanan, yang ada hanya penjual ikan bakar segar lengkap dengan sambel tapi tidak ada nasinya, jadi harus bawa pulang. Sementara kami butuh makan malam, bukan hanya lauknya saja.

Keputusannya makan di restoran Padang lagi di RM. Bundo Kanduang yang terkenal di kota itu, ditandai dengan foto-foto pejabat yang mampir makan di sini.

Kebutuhan yang paling hakiki adalah istirahat dan tidur, setelah melakukan perjalan dari rumah di Jakarta sejak bangun pukul 4.30 Wib dan berangkat ke Cengkareng pukul 05.30, dilanjutkan dengan take off 08.40 dan landing di Bandara El Tari Kupang pukul 13.30 Wita, dan terakhir perjalanan menuju ke Soe ini sampai pukul 21.30 Wita .

Mungkin karena Soe adalah sebuah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, jadi kami hanya menemukan sebuah hotel sekedar untuk rebahan, Bahagia 1 Hotel, satu diantara 3 atau 4 hotel yg ada di Kota Soe. Beruntung saya masih dapat kamar terbaik hotel tsb, meskipun TVnya pun rusak, tidak ada AC maupun air panas untuk mandi.

Malam itu saya tidur sampai pukul 4 pagi, bangun dan sholat. Syukurlah sebelum berangkat paginya kami disediakan kopi panas dari hotel.
Lumayan…..!!!

Advertisements

2 thoughts on “PERJALANAN KE PERBATASAN TIMOR LESTE (1)

Add yours

  1. Kota Soe lumayan sejuk Mb Rynari, sayang sudah sulit meneukan Jeruk Keprok Soe, katanya akibat perubahan iklim dan hama penyakit.

    Tapi klo daging Sei saya baru denger tuh,…… yaaa sayang saya ketinggalan info 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: