JEMBATAN REL KERETA API RIVER KWAI KANCHANABURI

IMG_4181

Kanchanaburi adalah provinsi ketiga terbesar di Thailand setelah Provinsi Chiang Mai dan Nakhon Ratchasima, terletak di daerah pegunungan dan dataran tinggi, ±150km Barat Daya Bangkok, berbatasan dengan Burma (sekarang Myanmar), ditandai antara lain oleh dua buah sungai yaitu Mae Nam Khwae Yai dan Mae Nam Khwae Noi.

Keindahan alam dan sejarah kelam Kanchanaburi, membuatnya menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke provinsi ini.

Kami menyewa sebuah Van, 3500 baht, termasuk supir dan bahan bakar, kecuali tips yang kita berikan sesuai kemampuan.

Infrastruktur transportasi dan jalan tol di Thailand sangat mendukung kelancaran perjalanan kami dari Bangkok menuju Provinsi Kanchanaburi yang memakan waktu sekitar 3,5 jam. Van yang kami tumpangi bahkan dapat melaju dengan kecepatan 140 km/jam, berhenti di rest area dan menunggu kami ke toilet, berbelaja minuman dan buah segar, serta beristirahat sejenak. Sedangkan supir Van mengisi bahan bakar (umumnya kendaraan wisata/ van/ truk di Thailand menggunakan bahan bakar gas).

O ya, makanan yang dijual di rest area ini al. bermacam-macam buah segar  (bisa dikupas dan dipotong-potong) yang banyak diminati oleh pembeli serta minuman botol berkadar gula rendah.

***

Di Kanchanaburi terdapat jembatan yang fenomenal yaitu Jembatan Jalan Rel Burma atau Jalan Rel Kematian yaitu Jembatan Rel Kereta Api River Kwai .

Dari “The History of the Real Bridge over The River Kwai Yai” dapat diketahui bahwa rel kereta api ini dibangun Tentara Kolonial Jepang dengan Sistem Kerja Paksa/ kerja Rodi/ Romusha yang terkenal dengan kekejamannya. Memperkerjakan ratusan ribu tawanan perang tentara Sekutu dalam Perang Dunia II, terutama dari beberapa negara jajahan seperti Malaysia, Singapura, Indonesia dan India.

Diketahui bahwa 70% diantara para pekerja tersebut tewas karena beratnya medan dan beban yang mereka pikul, dengan waktu istirahat yang sangat singkat, gizi buruk dan serangan penyakit. Sementara mereka harus menyelesaikan proyek jalan kereta sepanjang 419 km tersebut, melintasi aliran sungai deras, menembus hutan, pegunungan, bukit dan lembah, hingga perbatasan Myanmar dalam waktu yang sangat singkat.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketika mengetahui bahwa, bahan baku/ besi jembatan rel kereta Api River Kwai ini di datangkan dari Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia..

Proyek ini merupakan strategi dan taktik perang Tentara Jepang melawan Tentara Sekutu yang akan memasuki Wilayah Asia Tenggara. Tentara Jepang menggunakan kereta sebagai sarana transportasi untuk menjamin pasokan atau suplai logistik perang dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Sekarang di Kanchanaburi telah berdiri sebuah Tugu Peringatan dan Museum Perang Dunia II untuk menghormati pengorbanan jiwa dan raga para pekerja dalam membangun jembatan dan rel kereta api tsb.

IMG_4219

***

IMG_4215
Restoran di pinggir Sungai

Kami hanya sempat main-main dan berjalan menyusuri jembatan sambil menikmati aliran sungai besar yang ada di bawahnya, menyaksikan kereta kuno yang disewakan kepada wisatawan untuk bernostalgia, menyaksikan sebuah Vihara dengan Patung Raksasanya, mampir ke Museum Perang Dunia II, serta makan siang di salah satu restoran yang cukup banyak di pinggiran sungai tsb.

Sementara itu, masih banyak objek-objek wisata lain yang belum sempat kami kunjungi seperti Erawan National Park dengan tujuh air terjun, Lawa Cave (Goa Lawa) dengan stalagtit dan stalagnit-nya yang konon pernah dihuni oleh manusia Neolitik, Srinakarin Dam yaitu bendungan aliran sungai Kwai Ya, Tiger Tample sebagai tempat para biksu melakukan konservasi Harimau Thailand, dll.

Kami malah lebih fokus ke tempat penjualan batu cincin atau batu akik yang terkenal dengan Giok Burma nya, baik dipakai sendiri maupun sebagai oleh-oleh kepada sahabat di Indonesia, yang sudah jadi atau masih berupa bongkahan.

Sebagai perbandingan harga satu Giok Burma dengan mutu sedang seharga 1.200 sd 1.500 baht (tergantung besar dan jumlah karat), dan bongkahan batu sebesar kepalan orang dewasa seharga 1.500 baht.

Tentu saja, tetap waspada dan berhati-hati membeli batu akik di sini, jangan beli di tempat yang abal-abal, kalau ingin mendapatkan batu akik dengan kualitas yang memuaskan. Karena beberapa orang teman ada yang tertipu dengan tampilan batu akik yang sudah mengkristal, ternyata setelah diteliti batu tersebut adalah olahan dengan teknologi laser.

IMG_4194

Advertisements

12 thoughts on “JEMBATAN REL KERETA API RIVER KWAI KANCHANABURI

Add yours

  1. Saya salut dengan negara tetangga yang punya infrastruktur jalan toll sampai ke penjuru negeri. Harus diakui mereka punya visi yang jauh lebih baik dari Indonesia soal infrastruktur.
    150 km itu kalau jaraknya dari Padang sudah melampaui kampung saya di Muarolabuah. Bayangkan, betapa murahnya biaya logistik dengan toll sepanjang itu. Belum lagi multiple effect yang ditimbulkan oleh keberadaan jalan toll itu.

    Tadi ambo sangko foto nan paliang ateh jambatan kareta api di Muaro Panjalinan, Tabiang, karano sepintas mirip, haha…

    Cindua Mato passing Muaro Penjalinan bridges

    Like

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Ded…

    Memang mengerikan ya apabila mengenangkan banyaknya korban saat membina jembatan rel ini. betapa kejamnya peperangan yang meragut nyawa manusia yang tidak berdosa. Semoga semua itu menjadi pengajaran buat kita semua.

    Salam ramadhan dari Sarikei, Sarawak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: