PATTAYA

IMG_4077

Kami berangkat pukul 2 siang, dengan Van yang kami sewa dari Bangkok Cha-Da Hotel (tempat kami menginap). Biaya sewa Van di hotel tsb untuk dalam kota 2.500 Baht perhari, sedangkan untuk luar kota 3.500 Baht perhari.

Perjalanan dari Bangkok ke Pattaya, memerlukan waktu sekitar 2 s/d 2,5 jam, tergantung kondisi saat itu, apalagi ketika kami berangkat dari Bangkok situasi jalan cukup padat.

Dari pengalaman sewa mobil sehari sebelumnya, saya bilang kepada Petugas hotel agar memberikan kami driver yang bisa berbahasa Inggris supaya lebih mudah komunikasinya. Karena supir Van sehari sebelumnya hanya bisa berbahasa Thai, sehingga waktu itu kami hanya bisa komunikasi dengan “Bahasa Tarzan”.

He3… 🙂

Siang itu suhu di Bangkok cukup panas mencapai 36ºC (bahkan besoknya meningkat menjadi 37ºC), panas terik dan perih terasa dikulit.

Saya rasa, pengaruh serta dampak dari peningkatan suhu yang ekstrim di India yang menewaskan sampai ribuan korban jiwa oleh heatstroke dan dehidrasi. Akibat terpapar lama oleh panas ekstrim, yang dapat meningkatkan suhu tubuh, menyebabkan over-heating sel protein yang kemudian berdampak negatif pada otak individu (manusia maupun hewan).

***

IMG_4098

Ini adalah kehadiran saya yang pertama di Pattaya, karena ketika sebelumnya ketika berkunjung ke Thailand saya malah lebih lama berada di Phuket dibandingkan dengan Bangkoknya sendiri. Saya tidak sempat datang ke Pattaya, padahal untuk mencapainya tidak begitu sulit, apalagi ditopang oleh infrastruktur jalan tol yang sangat baik, sehinga dapat menekan waktu tempuh.

Bayangkan kecepatan Van kami bisa mencapai rata-rata antara 120 s/d 130 km perjam.

Pattaya merupakan wilayah pesisir yang berada di daerah Chonburi. Kebetulan saja saya termakan isu dan iklan serta promosi tentang Pattaya, yang mengatakan bahwa tempat ini adalah tujuan wisata belanja murah dengan pantai yang cantik, cocok untuk segala usia, surga wisata kuliner dan pecinta pantai. Promo wisata yang membuat membuat saya tergoda dan merasa penasaran.

He3…. padahal setelah didatangi, bagi saya Pantai Kuta, Pantai Sanur atau Padang-Padang Beach di Bali masih lebih indah dibandingkan dengan Pattaya yang pasir pantainya tidak begitu putih.

Apalagi kalau dibandingkan dengan keindahan pasir dan pantai yang ada di Pulau Lengkuas sebagai salah satu gugusan pulau di Kepulauan Bangka Belitung Si “Negeri Laskar Pelangi” atau pantai di sekitar Pulau Weh di Sabang, Aceh.

Jauuhhhh, Pattaya ga da apa-apanya….!!!

***

Suasana di Pattaya cukup meriah namun tenang, trotoarnya bersih dengan taman sederhana, namun penuh dengan bunga warna-warni.

Seperti pantai-pantai lain, di pantai ini juga ada kafe yang menjual minuman dan menyewakan kursi pantai. Ombak di Pantai Pattaya cenderung stabil, tidak terlalu besar sehingga tidak berbahaya, apalagi ada batasan-batasan tempat yang diijinkan (aman) untuk berenang. Sehingga pantainya dapat dinikmati oleh segala usia tanpa khawatir akan terseret ombak.

Saya tidak sempat berenang, tapi teman saya yang “nyebur” mengatakan bahwa air lautnya cukup hangat, membuatnya nyaman untuk berenang dan berendam. Tersedia juga tempat bilas yang tentu saja harus bayar…!!!

Oya, Toilet juga harus bayar (5 Baht).

Ada juga tempat penyewaan sepeda atau sepeda motor dengan harga relatif murah. Yang pasti, tidak ada yang gratis di tempat ini, kecuali pantai itu sendiri…..!!!

Di sepanjang jalan, banyak penjual makanan dengan harga relatif murah baik yang di warung-warung permanen maupun warung yang menggunakan becak, kafe, maupun restoran. Meskipun demikian saya tidak berminat untuk mencoba makanan-makanan tsb, saya hanya beli buah pepaya yang dipotong-potong serta minuman botol (padahal saya ingin buah kelapa muda yang biasanya banyak di pantai-pantai, tapi di Pattaya malah ga ada).

Pantai ini berubah meriah dengan lampu warna warni sepanjang jalan pada malam hari, mungkin bagi mereka yang suka hiburan malam, akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan berada di sini.

Jalur pedestrian yang luas dengan pemandangan pantai juga bisa digunakan untuk berjalan-berjalan atau berbelanja di pusat belanja Central Festival

Oya, di Central Pattaya juga ada atraksi Cabaret Show dan diskotik, namun untuk hiburan yang satu ini saya juga tidak berminat, karena beberapa tahun yang lalu saya pernah ke sini, jadi mohon maaf kali ini tidak usah lah. Lagian ga da yang istimewa juga kok di situ…!!!

IMG_4126

Saat itu jam menunjukan pukul 7 malam, ketika Sang Surya mulai bersembunyi di ufuk Barat, kami siap-siap untuk kembali ke Bangkok, dan sebelum pulang mau makan dulu, searching restoran halal di internet,  ketemu restoran Mak Cik.

Eeehhh setelah ditelusuri ternyata tempat makan ini sudah disulap menjadi panti pijat dan spa.

Haa3….

IMG_4152

***

Akhirnya kami memutuskan makan malam di Bangkok saja, meskipun sampai di Bangkok sudah jam 11. Teman-teman sudah sudah “kalap” alias kelaparan, makan malam di Kuang Seafood.

Akibatnya, setiap yang dihidangkan ludes….. terakhir kulit bebek yang diikuti dengan bebek gorengya yang garing dan gurih dengan porsi yang sangat besar. Ludes juga he3 … 🙂

Alhamdulillaah.…..

***

Tidak ada jalan lagi, saya harus kembali ke hotel, mandi air hangat, shalat……. dan molorrrr sampai pagi, bablas sampai bangun-bangun sudah jam 5.15.

Terima kasih Ya Allah atas nikmat yang Engkau berikan ….

Advertisements

8 thoughts on “PATTAYA

Add yours

    1. Iya MAs, kekurangan kita hanya itu, belum bisa mengoptimalkan kekayaan dan keindahan alam yang kita miliki untuk kesejahteraan masayarakat 😦

      Like

  1. Padahal pantai Pattaya ini begitu terkenalnya. Apakah karena plus2nya itu barangkali, da Ded, hehe..
    Pantai di Indonesia jauh lebih keren tapi kurang terkenal di dunia manca negara. Banyak faktor yang mempengaruhi pantai kita gak banyak pengunjungnya. Salah dua yaitu infrastruktur dan kenyamanan.

    Like

    1. Faktor pertama karena kita tidak serius mengelola sektor pariwisata ini.
      Yg kedua di negara lain yg jadi komoditi adalah plus2 nya ini….. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

UD3d Rajo Bagindo

Perjalanan seorang manusia

Cha in Hate 'n Love

Because life is about hate and love

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

%d bloggers like this: